BLOG PINDAH KE

Tampilkan postingan dengan label Santa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2011

Para Malaikat Pelindung


Pada hari 2 Oktober ini kita merayakan pesta para utusan Tuhan yang melindungi kita umat manusia. Kita dapat menemukan kisah tentang mereka sepanjang Kitab Suci. Para malaikat menyampaikan pesan-pesan dari Tuhan, melindungi manusia dari mara bahaya serta menyelamatkannya. Dalam Perjanjian Baru, dalam Kitab Kisah Para Rasul bab 12 dikisahkan bagaimana St. Petrus dibimbing oleh seorang malaikat untuk meloloskan diri dari penjara. Telah berabad-abad lamanya umat Kristiani percaya bahwa kita masing-masing mempunyai seorang malaikat pelindung.


Gambar malaikat pelindung yang paling sering kita jumpai adalah gambar seorang malaikat yang sedang melindungi seorang anak kecil yang sedang berjalan menyeberangi sebuah jembatan kecil. Pada tahun 1608, Paus Paulus V menambahkan pesta para malaikat pelindung ke dalam penanggalan para kudus dan pesta gerejani. Mengetahui serta mengimani bahwa kita masing-masing mempunyai seorang malaikat pelindung yang melindungi kita, sungguh sangat membesarkan hati. Malaikat pelindung kita adalah hadiah dari Tuhan kita yang penuh belas kasih.


“Demikianlah para malaikat itu berada di sini; mereka ada di sampingmu; mereka ada bersamamu, mereka ada bagi kamu. Mereka ada di sini untuk melindungimu serta melayanimu. Dan meskipun Tuhan-lah yang telah menugaskan mereka untuk tugas-tugas itu, kita tetap harus berterima kasih kepada mereka oleh karena kasih mereka yang besar sehingga mereka taat serta datang untuk menolong kita pada saat kita membutuhkan pertolongan.”
St. Bernardus

Disalin dari : Yesaya

Senin, 28 Februari 2011

St Adelaide

16 Desember St Adelaide dilahirkan pada tahun 931. Dalam usia enambelas tahun, Puteri Burgundi ini dinikahkan dengan Raja Lothair. Tiga tahun kemudian, suaminya meninggal dunia. Penguasa yang diyakini telah meracuni suaminya berusaha menjadikan Adelaide sebagai isteri puteranya. Adelaide tentu saja menolak. Dalam murkanya, sang penguasa memperlakukannya dengan kejam. Ia bahkan mengurung Adelaide dalam sebuah benteng di tengah sebuah danau.

Adelaide diselamatkan ketika Raja Otto Agung dari Jerman menaklukkan penguasa ini. Meski Adelaide duapuluh tahun lebih muda darinya, Otto menikahi Puteri Adelaide yang cantik pada Hari Natal. Ketika raja membawa pulang ratunya yang baru, rakyat Jerman segera mencintainya. Adelaide seorang yang lemah lembut dan anggun lagi cantik jelita. Tuhan menganugerahkan lima anak kepada pasangan kerajaan ini. Mereka hidup bahagia selama duapuluh dua tahun. Ketika Otto mangkat, putera sulung Adelaide menjadi penguasa. Puteranya ini, Otto Kedua, seorang yang baik, tetapi terlalu cepat bertindak tanpa pikir panjang. Ia melawan ibunya sendiri sehingga ibunya meninggalkan istana. Dalam kepedihan hatinya, Adelaide minta pertolongan seorang abbas, St Majolus. Abbas ini membuat Otto menyesali perbuatannya. Adelaide menemui puteranya di Italia dan raja memohon pengampunan dari bundanya. Adelaide berdoa bagi puteranya dengan membawa persembahan ke tempat ziarah St Martin dari Tours.

Di masa tuanya, St Adelaide dipanggil untuk memimpin negara sementara cucunya masih kanak-kanak. Ia membangun banyak biara dan berkarya demi mempertobatkan orang-orang Slavic. Sepanjang hidupnya, ratu yang kudus ini taat pada nasehat orang-orang kudus. Ia senantiasa siap sedia mengampuni mereka yang bersalah kepadanya. St Addle dari Cluny menyebutnya sebagai “perpaduan mengagumkan dari keelokan dan keanggunan.”

St Adelaide wafat pada tanggal 16 Desember 999.   
Perempuan kudus ini dicintai sebagai seorang penguasa yang bijaksana. Bagaimanakah rahmat Tuhan berkarya dalam diriku sendiri?
sumber : Yesaya

Sabtu, 06 Februari 2010

St. Agnes Mempelai Anak Domba



"Kristus mempercantik jiwaku dengan perhiasan rahmat dan kebajikan.
Aku ini milik Dia, yang dilayani oleh para malaikat." ~ St. Agnes



St. Agnes hidup pada masa Gereja Perdana, yaitu masa ketika orang-orang Kristen mengalami penindasan serta penganiayaan yang kejam dalam pemerintahan bangsa Romawi. Ia wafat sebagai martir sekitar tahun 304 - 305 dalam pemerintahan Kaisar Diocletian. Usia Agnes pada waktu itu baru 13 tahun. Meskipun tidak banyak catatan sejarah yang ada mengenai St. Agnes, ia amat populer. Hal ini terutama karena St. Ambrosius serta para kudus Gereja lainnya banyak menulis tentangnya.


`Agnes' dalam bahasa Latin berarti `anak domba' atau `kurban', sementara dalam bahasa Yunani berarti `murni, suci'. Agnes seorang gadis remaja yang cantik jelita dan berasal dari keluarga kaya. Banyak pemuda bangsawan Romawi terpikat padanya; mereka saling bersaing agar dapat memperisteri Agnes. Tetapi Agnes menolak mereka semua dengan halus dan mengatakan bahwa ia telah mengikatkan diri pada seorang Kekasih yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Procop, putera Gubernur Romawi, termasuk salah seorang di antara para pemuda yang amat marah dan merasa terhina oleh penolakan Agnes. Mereka melaporkan Agnes kepada Gubernur dengan tuduhan pengikut Kristus.


Pada mulanya Gubernur bersikap ramah serta lembut kepadanya. Ia menjanjikan harta serta kedudukan jika saja Agnes mau menyangkal imannya dan menikah dengan Procop. Agnes menolak, berkali-kali diulanginya pernyataannya bahwa ia tidak dapat memiliki mempelai lain selain dari Yesus Kristus. Karena pernyataannya itu, Agnes diseret ke depan mezbah berhala dan diperintahkan untuk menyembahnya. Bukannya menyembah berhala, Agnes malahan mengulurkan tangannya dan membuat Tanda Salib, tanda kemenangan Kristus. Gubernur kemudian memperlihatkan kepadanya api penyiksaan, kait besi, serta segala macam alat penyiksa lainnya, tetapi gadis muda itu tetap tabah dan tidak gentar sedikit pun.


Karena Agnes tetap keras kepala, Gubernur mengancam akan mengirim Agnes ke rumah pelacuran. Tetapi Agnes menjawab, “Yesus Kristus amat pencemburu, Ia tidak akan membiarkan kemurnian para mempelainya dicemarkan seperti itu. Ia akan melindungi dan menyelamatkan mereka.” Katanya lagi, “Kalian dapat menodai pedang kalian dengan darahku, tetapi kalian tidak akan pernah dapat menodai kesucian tubuhku yang telah kupersembahkan kepada Kristus.” Gubernur amat marah mendengar perkataannya itu. Ia memerintahkan agar Agnes, saat itu juga, dikirim ke rumah pelacuran dengan perintah bahwa semua orang berhak menganiayanya sesuka hati mereka.


Orang banyak datang untuk menyaksikan peristiwa itu. Tetapi, ketika melihat pancaran sinar wajah Agnes yang kudus dan agung serta sikapnya yang tenang, penuh kepercayaan kepada Kristus yang melindunginya, orang banyak itu takut dan tidak berani mendekat. Seorang pemuda tampil dan berusaha mengganggu Agnes. Pada saat itu juga, dengan kilat yang dari surga, pemuda itu tiba-tiba menjadi buta dan jatuh ke tanah dengan tubuh gemetar. Teman-temannya dengan ketakutan membopongnya serta membawanya kepada Agnes yang kemudian menyanyikan lagu puji-pujian kepada Kritus, sehingga pemuda itu dapat melihat serta sehat kembali.


Gubernur amat murka dan menjatuhkan hukuman mati pada Agnes. Algojo mendapat perintah rahasia untuk dengan segala cara membujuk Agnes, tetapi Agnes menjawab bahwa ia tidak akan pernah menyakiti hati Mempelai Surgawi-nya. Orang banyak menangis menyaksikan seorang dara yang lembut dan jelita dengan belenggu dan rantai yang terlalu besar bagi ukuran tubuhnya yang kecil, digiring ke tempat hukuman mati. Ia terlalu muda untuk memahami arti kematian, namun demikian ia siap menghadapinya tanpa gentar sedikit pun. Sesungguhnya, Agnes diliputi sukacita yang besar karena ia akan segera diperkenankan menyongsong mempelainya. Sama sekali tidak dihiraukannya ratap tangis mereka yang memohonnya untuk menyelamatkan nyawanya. “Aku tidak akan mengkhianati Mempelai-ku dengan menuruti keinginan kalian,” katanya, “Ia telah memilihku dan aku adalah milik-Nya.” Kemudian Agnes berdoa, membungkukkan badannya untuk menyembah Tuhan, dan segera menerima hujaman pedang yang menghantarkan jiwanya yang suci kepada kekasihnya. Agnes telah mempertahankan kemurniannya dan memperoleh mahkota martir di surga.


Jenasah Agnes disemayamkan di pemakamam keluarga di Via Nomentana dekat kota Roma. Kurang lebih lima puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 354, Kaisar Konstantin Agung mendirikan sebuah gereja besar di tempat itu. Tubuh Agnes disemayamkan di bawah altar Gereja. Pada abad ketujuh, gereja itu kemudian dipugar, diperbesar serta diperindah dan sekarang dikenal sebagai Basilik St. Agnes.


Selama berabad-abad, setiap tahun sekali, yaitu pada pesta St. Agnes, dua anak domba tak bercela dipersembahkan dan diberkati di Basilik St Agnes. Kemudian kedua anak domba itu dipelihara oleh para biarawati Benediktin dari Santa Cecilia di Trastevere hingga hari Kamis Putih, yaitu pada saat mereka digunting bulunya. Dari bulu mereka dibuatlah 12 pallium yaitu semacam stola istimewa yang dikirimkan kepada Bapa Suci. Bapa Suci memberikan pallium tersebut kepada para Uskup Agung yang mengenakannya sebagai lambang anak domba yang digendong oleh Gembala Yang Baik.
Pesta St. Agnes dirayakan oleh Gereja Katolik di seluruh dunia setiap tanggal 21 Januari.


Disalin dari : www.indocell.net/yesaya

St. Lusia


“Bertautlah kepada-Nya, kepada Dia yang engkau cari, berpalinglah kepada-Nya dan temukanlah kebenaran; berpegangteguhlah kepada-Nya, mohon kepada-Nya untuk tidak bergegas pergi, mohon kepada-Nya untuk tidak meninggalkanmu.” St. Ambrosius


Santa yang dikagumi ini hidup di Syracuse, Sisilia. Ia dilahirkan pada akhir abad ketiga. Orangtuanya adalah bangsawan yang kaya raya serta terhormat. Ayahnya meninggal ketika Lusia masih kecil. Lusia secara diam-diam berjanji kepada Yesus bahwa ia tidak akan pernah menikah agar ia dapat menjadi milik-Nya saja. Lusia seorang gadis yang jelita dengan sepasang mata yang indah. Para pemuda bangsawan jatuh hati kepadanya. Ibunya mendesaknya untuk menikah dengan salah seorang dari mereka yang telah dipilihnya bagi Lusia. Tetapi Lusia tidak tertarik. Ia kemudian memikirkan suatu rencana untuk melunakkan hati ibunya. Ia tahu bahwa ibunya menderita sakit pendarahan. Lusia membujuknya untuk pergi ke gereja St. Agatha dan berdoa mohon kesembuhan. Lusia pergi menemaninya dan mereka berdoa bersama. Ketika Tuhan mendengar doa mereka serta menyembuhkan ibunya, Lusia mengatakan kepada ibunya tentang ikrarnya untuk menjadi pengantin Kristus. Sebagai ungkapan rasa terima kasih atas kesembuhannya, ibunya mengijinkan Lusia memenuhi panggilan hidupnya. Tetapi pemuda kepada siapa ibunya telah menjanjikan Lusia, amat marah karena kehilangan Lusia. Dalam puncak kemarahannya, ia melaporkan Lusia sebagai seorang pengikut Kristus. Ia mengancam hendak membutakan kedua mata Lusia. Tetapi, Lusia bahkan rela kehilangan kedua matanya daripada tidak menjadi pengantin Kristus. Dan itulah yang terjadi. Banyak patung yang kelak dibuat menggambarkan St. Lusia dengan matanya yang indah di telapak tangannya. Yesus membalas cinta Lusia yang gagah berani. Ia melakukan mukjizat dengan memulihkan mata Lusia kembali, bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya.

Hakim yang kafir berusaha mengirim Lusia ke rumah wanita pendosa. Ia berharap agar Lusia dapat dibujuk untuk mengingkari Kristus. Tetapi ketika mereka berusaha membawanya ke sana, Tuhan menjadikan tubuh Lusia demikian berat sehingga mereka tidak dapat mengangkatnya. Pada akhirnya, Lusia ditikam dan menjadi martir bagi Yesus pada tahun 304.

Disalin dari : www.indocell.net

S. Brigita dari Irlandia


Orang kudus kita ini begitu rindu mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Adakah suatu ruang dalam hidupmu yang engkau sembunyikan dari Tuhan? Bagaimanakah jika engkau mempersembahkannya kepada Tuhan?


Hanya beberapa tahun sesudah kedatangan St Patrick di Irlandia, seorang bayi mungil dilahirkan dan dinamai Brigita. Ayahnya seorang bangsawan Irlandia bernama Dubthac dan ibunya bernama Brocca. Semakin kanak-kanak ini bertambah besar, semakin besar pula kasihnya kepada Yesus. Ia mencari Yesus dalam diri orang-orang miskin dan seringkali membawakan makanan dan pakaian bagi mereka. Konon suatu hari ia membagi-bagikan segentong penuh susu. Lalu, ia mulai cemas akan apa yang akan dikatakan ibunya. Ia berdoa kepada Tuhan untuk mengganti apa yang telah dibagi-bagikannya. Ketika tiba di rumah, gentong telah penuh kembali dengan susu!
Brigita seorang gadis yang cantik jelita. Ayahnya beranggapan bahwa sudah tiba waktunya bagi Brigita untuk menikah. Akan tetapi, Brigita telah berbulat hati untuk mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ia tak hendak menikah dengan siapapun. Ketika mengetahui bahwa para pemuda tertarik kepadanya sebab kecantikannya, ia memanjatkan suatu permohonan yang aneh kepada Tuhan. Ia mohon agar kecantikan wajahnya diambil darinya. Tuhan mengabulkan permohonannya. Melihat bahwa puterinya tak lagi cantik, dengan rela hati ayahnya menyetujui ketika Brigita minta diijinkan menjadi seorang biarawati.

Sang gadis mengikuti panggilan hidup religiusnya. Ia bahkan memulai suatu biara agar para gadis yang lain dapat menjadi biarawati juga. Setelah ia mengkonsekrasikan hidupnya kepada Tuhan dalam biara, suatu mukjizat terjadi. Brigita menjadi cantik kembali! Ia mengingatkan orang akan Santa Perawan sebab ia begitu lemah lembut dan baik hati. Sebagian orang menyebutnya “Maria dari Irlandia”. St Brigita wafat pada tahun 525.

Disalin dari : www.indocell.net/yesaya

B. Imelda Lambertini

“Dapatkah seorang menyambut Yesus masuk ke dalam hatinya dan tidak mati?”


Imelda Lambertini dilahirkan di Bologna, Italia pada tahun 1322, sebagai puteri pasangan Pangeran Egano Lambertini dan Castora Galuzzi. Sanak keluarganya terkenal religius, di antara mereka terdapat seorang pengkhotbah Dominikan, seorang moeder pendiri Fransiskan, dan seorang bibi yang mendirikan sebuah biara dengan peraturan yang ketat di Bologna.

Imelda adalah seorang gadis kecil yang lemah lembut, dikasihi dan disayangi seluruh keluarga. Karena lingkungan keluarganya yang religius, tak mengherankan bahwa ia tumbuh menjadi seorang gadis yang saleh. Imelda kecil suka sekali berdoa; kerap kali diam-diam ia menghilang ke suatu sudut rumah yang tenang, yang dihiasinya dengan bunga-bungaan dan gambar-gambar kudus menjadi sebuah pojok doa kecil baginya. Ia belajar membaca Mazmur dan sejak muda benar setia ikut ambil bagian dalam Misa dan Ibadat Sore di gereja Dominikan. Ibunya mengajarinya menjahit dan memasak bagi orang-orang miskin, juga mengajaknya ikut serta membantu dalam kegiatan amal kasih.

Ketika Imelda berusia sembilan tahun, ia minta agar diperkenankan masuk Biara Dominikan di Valdi-Pietra di Bologna. Ia adalah anak satu-satunya dari pasangan yang sudah cukup lanjut usianya untuk berharap dapat memperoleh anak lagi; sungguh pilu membiarkannya pergi. Meski demikian mereka mengantarkannya juga ke biara dan mempersembahkannya kepada Tuhan dengan sukarela, walau hati remuk-redam.

Status Imelda dalam biara tidak cukup jelas. Ia mengenakan jubah, ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan biara sepanjang diijinkan. Ia belajar Offisi dari mendengarkan madah-madah yang dilantunkan para biarawati dan merenungkannya sedapat yang ia mampu. Disposisi batin biarawati kecil ini segera saja membuatnya disayangi, sementara semangat berkobar-kobar yang menghantarnya masuk ke dalam biara sungguh membawa dampak positif bagi para biarawati lainnya. Devosi istimewa Imelda adalah kehadiran Ekaristis Tuhan kita dalam perayaan Misa Kudus dan dalam tabernakel. Menyambut Tuhan kita dalam Komuni Kudus adalah kerinduan hatinya yang terdalam; sayang, pada masa itu, untuk menyambut Komuni Pertama seorang anak harus berusia sekurang-kurangnya duabelas tahun. Sekali waktu, apabila tak tahan menahan kerinduan hatinya, Imelda akan berseru, “Katakanlah padaku, dapatkah seorang menyambut Yesus masuk ke dalam hatinya dan tidak mati?”

Sungguh, suatu hidup yang sepi bagi seorang gadis kecil berusia sembilan tahun, dan seperti kebanyakan anak lainnya yang kesepian, ia membayangkan teman bermain bagi dirinya - tetapi dengan satu perbedaan ini - teman-teman bermainnya adalah para kudus! Ia teristimewa sangat sayang kepada St Agnes, martir, yang berusia sedikit lebih tua dari dirinya. Seringkali ia membaca tentang St Agnes dari buku-buku besar bergambar di perpustakaan, dan suatu hari, St Agnes datang menampakkan diri kepadanya! Imelda sungguh bersukacita. Ia tidak dilibatkan dalam devosi-devosi orang dewasa, tetapi kini ia mempunyai sahabat sebaya yang dapat memberitahukan kepadanya segala hal yang paling ingin diketahuinya. Sesudah kunjungan ini, St Agnes kerap datang menemuinya, dan mereka berdua bercakap akrab mengenai hal-hal surgawi.

Natal pertamanya di biara hanya membawa kepedihan dalam hati Imelda. Ia memendam harapan bahwa para biarawati akan berbelaskasihan dan mengijinkannya menyambut Komuni Suci. Namun, pada hari agung itu, ketika semua orang maju menyambut Yesus dalam Ekaristi Kudus, Imelda harus tinggal di tempatnya, memandang dengan berlinang airmata kepada Bayi Kudus dalam palungan. Imelda mulai berdoa bahkan dengan lebih khusuk lagi agar ia diperkenankan menyambut Komuni Suci.

12 Mei 1333. Musim semi telah tiba di Bologna, dan dunia sedang bersiap merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan. Para biarawati sibuk mempersiapkan keperluan Misa; tak seorang pun dari antara mereka menaruh perhatian khusus pada gadis kecil yang tengah berlutut larut dalam doa. Walau ia telah memohon agar diperkenankan tinggal di kapel pada malam hari raya, permohonannya tak diindahkan; dan ia pun taat. Mereka tidak tahu betapa gigih ia mengetuk pintu gerbang surga, sembari mengulang-ulang bagi dirinya sendiri demi menguatkan keyakinannya, ayat ini, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Maka, pintu sungguh dibuka bagi Imelda pada pagi Hari Raya Kenaikan Tuhan. Ia telah memohon sekali lagi dengan sangat agar diberikan kepadanya hak istimewa untuk menyambut Komuni Suci, dan karena ia bersikeras, terpaksalah imam dipanggil. Imam menolak mentah-mentah; Imelda harus menunggu hingga cukup usianya. Imelda pergi ke tempatnya di kapel, dan dengan diam membisu memandang sementara para biarawati pergi menyambut Komuni.

Seusai Misa, hanya Imelda seorang yang tetap tinggal di tempatnya di bagian paduan suara. Suster yang bertugas di sakristi memadamkan lilin-lilin dan membenahi pakaian-pakaian Misa. Sekonyong-konyong suatu suara membuatnya membalikkan badan dan melongok ke bagian paduan suara; terlihatlah olehnya seberkas cahaya yang bersinar cemerlang di atas kepala Imelda dan sebuah Hosti melayang-layang dalam cahaya itu. Suster bergegas memanggil imam yang segera datang dengan patena di tangan guna menerima-Nya.

Imam tak punya pilihan lain; Tuhan Sendiri telah menyatakan bahwa Ia menghendaki untuk bersatu dengan Imelda. Maka, dengan penuh hormat imam mengambil Hosti dan memberikannya kepada gadis kecil yang sedang mengalami ekstasi itu, yang berlutut bagaikan sebuah patung yang bercahaya, tak sadar akan kehadiran para biarawati yang datang berkerumun di kapel, ataupun orang-orang awam yang berdesakan di balik terali-terali kapel untuk melihat apa yang terjadi.

Selang beberapa waktu setelah mengucap syukur, priorin datang memanggil gadis kecil itu untuk sarapan. Didapatinya Imelda masih berlutut; suatu senyum bahagia tersungging di bibirnya, tetapi ia telah wafat, dalam luapan kasih dan sukacita.

Sepanjang hidupnya Imelda begitu rindu menyambut Yesus dalam Komuni Kudus; dan sungguh, Tuhan tidak pernah mengecewakan. Tuhan telah merancang suatu rencana yang indah, yang tak terbayangkan oleh siapa pun, bagi mempelai kecil-Nya - membawa Imelda bersama-Nya ke dalam Kerajaan-Nya, sehingga mereka tidak akan pernah berpisah lagi untuk selamanya!

Imelda Lambertini dinyatakan sebagai beata pada tahun 1826 dan dimaklumkan sebagai pelindung para penerima Komuni Pertama oleh St Paus Pius X. Jenazah Imelda yang tak rusak hingga sekarang disemayamkan di Gereja St Sigismund di Bologna. Pesta B. Imelda Lambertini dirayakan pada tanggal 13 Mei.




Disalin dari :
www.indocell.net/yesaya